Langsung ke konten utama

[Review Buku] Heidi - Belajar Ketulusan dari Cerita Anak di Pegunungan Alpen

Dari desa tua Mayenfeld yang indah, sebuah jalan setapak berkelok melewati padang rumput hijau yang teduh sampai ke kaki gunung.


Begitulah kira-kira pembuka dari sebuah buku klasik berjudul "Heidi". Ditulis oleh penulis Swiss Johanna Spyri yang terkenal dengan tulisan sederhananya tentang anak-anak. Buku ini  dicetak pada tahun 1880, menjadi buku favorit anak-anak, mendunia di sepanjang masa hingga sekarang. Aku sendiri membacanya pertama kali saat duduk di bangku SD, kira-kira sekitar tahun 2000an.

 

 

Heidi adalah sebuah kisah yang begitu indah. Kita sudah dihadapkan pada keindahan itu di deskripsi awal latar tempat di mana kisah ini akan bermula. Tetapi inti dari cerita ini adalah cerita seorang anak yatim piatu bernama Heidi, yang oleh bibinya (bibi Dete) dikirim ke rumah kakeknya di pegunungan Alpen. Kakeknya dikenal masyakarat bagai orang pertapa, yang tidak peduli dengan manusia lainnya, menyendiri dan seakan membenci manusia lainnya. Semua penduduk di Dorfli tidak menyangka bahwa bibi Dete begitu tega meninggalkan bocah malang pada kakek Alm. Jadi bisa dibayangkan, bahwa bocah kecil yang tidak tahu apa-apa, akan tinggal dengan seorang lelaki tua yang sangat dingin.

Nyatanya, apakah bibi Dete benar-benar melakukan keputusan yang salah? Apakah dugaan penduduk Dorfli benar bahwa tinggal bersama kakek Alm di atas gunung adalah petaka bagi Heidi. Beikut adalah cuplikan di mana bibi Dete pergi setelah berdebat panjang dengan kakek, dan tinggalah Heidi sendiri bersama kakeknya itu.

 

Dengan kaki tangan menyilang di balik punggungnya, Heidi berdiri dan memandangi laki-laki tua itu. Kakeknya mendongak, dan Heidi terus berdiri di sana tanpa bergerak.

"Kau mau apa?" tanya kakek.

"Aku mau lihat isi rumah kakek," ujar Heidi.

"Ya sudah, ayo.!" Kakek kemudian berdiri dan berjalan mendahuluinya menuju pondok. "Bawa buntalan pakaianmu," perintahnya saat Heidi mengikutinya.

"Aku tidak mau memakainya lagi," jawab Heidi segera.

Laki-laki itu berbalik dan melihat Heidi dengan bola mata menyelidik. Bola matanya yang gelap bersinar-sinar gembira menantikan apa yang akan dia lihat di dalam rumah kakek.

"Dia jelas-jelas tidak bodoh," gumam kakek pada dirinya sendiri. "Dan kenapa kau tidak mau memakainya lagi?" tanyanya keras-keras.

"Karena aku ingin bergerak seperti kamping-kambing itu, dengan kaki-kaki yang lincah."

"Kau boleh melakukannya kalau mau." 

Heidi tidak pernah berpikir apakah kakek tidak menyukainya, karena Heidi sangat menyukai pegunungan Alpen, dan dia sangat penasaran dengan lingkungan barunya itu. Dia sangat menyukai kambing-kambing dan bau rerumputan serta bunga-bunga di pegunungan. Semua hal di sekitarnya dapat dinikmatinya dengan bahagia. Bersama Peter, mereka setiap hari menggembala domba. Hatinya yang tulus, lama-lama membuat kakek Alm luluh, termasuk nenek Peter yang buta. Keluarga Peter merupakan keluarga yang miskin, dan Heidi hadir memberikan kehangatan bagi kakeknya, juga keluarga Peter.

Berikut ini cuplikan bagaimana Heidi mempertanyakan mengapa nenek tidak dapat melihat. Dia berusaha memberikan solusi yang sangat polos agar nenek dapat melihat yang dilihatnya.


"Tapi kenapa Nenek tidak bisa melihat kalau papan itu longgar, Nenek? Lihat, dia mulai lagi, lihat, yang itu!" Heidi menunjuk pada satu papan.

"Ah, Nak, bukan cuma itu yang tidak bisa kulihat- aku tidak bisa melihat apa pun, apap pun," kata Nenek dengan suara yang sedih.

"Tapi kalau aku pergi ke luar dan memasang kembali jendela itu supaya Nenek mendapat lebih banyak cahaya, bisakah Nenek melihat?"

"Tidak, begitu juga tidak, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan cahaya lagi untukku."

"Tapi kalau Nenek pergi ke luar di tengah-tengah salju putih, pasti Nenek bisa menemukan cahaya. Ikut saja denganku, Nenek, aku akan tunjukkan pada Nenek." Heidi mengamit tangan wanita tua itu dan menuntunnya. 

 

 

Bahkan kembali menuliskan cuplikan ini membuatku tidak mampu menahan keharuan yang mendalam. Cerita Heidi adalah cerita favoritku sepanjang masa. Aku sangat ingin berterima kasih pada Johanna atas kisah sederhana ini. 

Sayangnya, belum lama kebahagian Heidi di pegunungan Alpen, bibi Dete sudah datang menjemputnya lagi. Seorang anak kaya di Franfurt sakit-sakitan dan kesepian. Mereka meminta bibi Dete membawakan seorang kawan untuknya. Itulah sebabnya bibi Dete datang kembali, dan membujuk Heidi habis-habisan meskipun Heidi tidak berkenan. 

Di Frankfurt, Clara si anak yang sakit-sakitan begitu bahagia memiliki teman Heidi. Keluarganya dan seluruh pelayan di rumah itu memperlakukan Heidi dengan sangat baik, meskpiun Nona Rottenmeier yang telah diberikan kepercayaan mengurus rumah sangat galak dan merasa Heidi harus mendapat didikan yang lebih. Akan tetapi, kerinduan Heidi pada kakek dan pegunungan Alpen begitu berat untuk ditanggungnya. Di rumah Clara, begitu banyak kejadian yang terjadi, dan Heidi terus memimpikan untuk bisa pulang ke pegunungan.

Saat aku mebaca ini di waktu kecil, aku mungkin terlalu fokus pada keindahan pegunungan dan sosok Peter serta Clara. Sampai-sampai aku ikut memimpikan berlarian bersama domba-domba di bawah kaki gunung, berguling-guling dan berbaring di rerumputan sembari menatap birunya langit. Tetapi saat beranjang dewasa, dan kuulang kembali kisah ini, ada rasa hangat dalam dadaku yang tidak mampu kutahan dan menyebabkan air mataku menetes sepanjang baris-baris kata ini kubaca. Terutama menyaksikan bagaimana hubungan seorang kakek yang memiliki banyak penyesalan dalam hidupanya ini, dengan gadis kecil periang ini. Bagaimana kemudian perkiraan orang-orang tentang kakek kasar dan penyendiri ini berubah, tidak seperti gosip-gosip yang beredar. Kakek yang merasa memiliki banyak dosa dan kesepian ini lama-lama memiliki kebahagiaannya sendiri bersama Heidi. Dan keluarga Peter yang begitu malang pun banyak terbantu oleh Heidi yang membawa kebaikan kakek kepada keluarga mereka.

Oh Tuhan, jika saja ada nilai tak terhingga aku akan sematkan pada kisah ini. Nah, jika kalian mencari buku anak, untuk mengajarkan ketulusan, kelembutan hati, segeralah dapatkan buku ini dan kenalkan pada anak-anak kalian. Mungkin saja buku anak ini membuat kita bersyukur dan menghadapi hidup lebih baik lagi.

Sebab dengan kelembutan dan kebaikan hatinya, Heidi di dalam kisah ini mengubah hidup orang-orang yang dekat dengannya dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Oh, tidak sampai situ. Dia ternyata juga mengubah hidupku. 

I love you Heidi, dan aku akan menyematkan mengunjungi pegunungan Alpen ini sebagai mimpiku.



I want adventure in the great wide somewhere. I want it more than i can tell.

Komentar